ketika kita diam dan tenang kita mampu melihat hal-hal yang malah membuat kita menertawakan diri kita sendiri. Diam yang mengevaluasi, bukan diam yang lari dan mencari pembenaran.
Ada satu fakta yang saya dapatkan ketika saya diam.
Bahwa ketika manusia yang meminta sebuah cinta tanpa syarat pada pasangannya, bukankah dia juga sedang mengajukan syarat mencintai. Syarat akan mencintainya jika pasangannya mau menggugurkan syaratnya.
Tiba-tiba terpikir ini spontan membuat saya langsung menertawakan diri sendiri. Saya jadi merasa seorang yang melarang merokok tapi sambil merokok.
Pada sebuah seminar tentang pendidikan, dikatakan bahwa cara mengajar atau mendidik yang baik adalah ‘teaching by doing’ , mengajari dengan melakukan. Anggaplah jika memang anda menginginkan sebuah cinta yang tanpa syarat dari lingkungan terdekat anda, suami, istri, keluarga dan teman-teman,maka cara yang paling baik bukankah harusnya dengan cara menunjukkan dan memberikan terlebih dahulu cinta tanpa syarat kepada mereka. Menunjukkan bahwa anda mampu mencintai dengan menerima syarat mereka tanpa mengajukan syarat kembali ? Sehingga yang diajari paham dan mau memahami karena kita sendiri sudah terbukti mampu melakukannya.
Berat ?
Ya apa yang anda minta juga sesuatu yang langka. Dan mendapatkan barang langka bukankah memerlukan perjuangan ?
Dikatakan juga dalam beberapa buku bahwa sebenarnya semesta yang diciptakan Tuhan ini diutus sebagai cermin mahkluknya untuk ber-iqro. Sehingga muncul istilah anda akan menuani apa yang anda tanam.
Berapa banyak dari kita yang kadang berada dalam posisi, orang diluar lingkungan kita serasa lebih memahami daripada mereka yang semestinya dekat dengan kita semisal keluarga ?
Mungkinkah itu karena kita juga bersikap lebih baik pada mereka yang diluar ? sedang pada mereka yang didalam kita kurang ?
Kenapa ?
Sering kali jawabannya karena orang luar lebih bisa menerima saya tanpa syarat, sedang orang terdekat kita tidak.
Nah, kalau semesta ini adalah cermin, bukankah sudah sangat terlihat ? Bagaimana mungkin anda meminta sebuah bayangan cermin tentang orang terdekat anda yang memberikan unconditional love, jika nyatanya anda masih mengajukan syarat cinta kepada mereka ? syarat mencintai jika mereka mau melepas syaratnya ?
Bukankah yang diminta keluarga/orang terdekat anda juga sama ? Mereka menginginkan anda mencintai mereka tanpa syarat, menerima mereka apa adanya ? Bukankah itu yang ditunjukkan semesta sebagai cermin anda ? Memberikan hasil panen apa yang anda tanam pada keluarga/orang dekat anda ?
Lalu ?
Hahahahaha saat ini saya hanya mampu tertawa, menertawakan diri sendiri, menertawakan kebodohan memaki dan menyesali bayangan yang sebenarnya saya sendiri yang membuat.
Menertawakan anda juga mungkin hahahaah
Sungguh berat, mencintai dengan tanpa syarat.
Untuk saat ini, saya hanya bilang pada diri sendiri, dan anda yang mungkin sedang bertanya juga kemana cinta keluarga anda, kemana unconditional love anda dari orang dekat anda.
Bahwa, selama anda merasa seperti itu, bahwa mereka harusnya paham dan anda baru akan mau mencintai dan menerima mereka setelah mereka membuang syarat mereka, jangan pernah mengumandangkan kalimat unconditional love. Karena anda, saya tidak dalam posisi layak memintanya lantaran saya dan anda sendiri (dengan melakukannya) kita terbukti tak mampu melaksanakan unconditinal love tadi.
Hanya sebuah catatan sepi yang bertele-tele mungkin. Abaikan jika menganggu.
Tapi sudilah doakan saya, mereka yang tidak sadar, agar kami mampu menanam ‘unconditional love’ untuk orang-orang yang kami sayangi dan peduli sehingga suatu saat, semesta akan mencerminkan ‘unconditional love’ kembali sebagai panen dari apa yang kami tanam.
RSS Feed
Twitter
21.06
Unknown
0 komentar:
Posting Komentar